Kamis, 20 Desember 2007

Royal Jelly

Royal jelly atau sari madu merupakan cairan putih berupa jeli atau krim susu dengan rasa asam. Royal Jelly jadi makanan larva lebah dan lebah ratu sehari-hari yang memacu ratu lebah untuk bisa bertelur setiap hari 1000- 1.500 butir telur sepanjang hidup, --bisa hidup 6-7 tahun. Sedangkan lebah biasa hanya bisa hidup kurang lebih tiga bulan.
Produk madu yang memiliki nilai ekonomi paling tinggi adalah royal jelly (susu ratu). Satu kilogram royal jelly harganya bisa Rp 1,5 juta, dan terkategori termahal dibanding 1 kg madu yang hanya seharga Rp 50 ribu. Pemanfaatan royal jelly masih terbatas pada masyarakat menengah ke atas.
Menurut Sumoprastowo dan Suprapto, 1980, bahan baku adalah tepung sari tanaman dan sari madu adalah sekresi kelenjar hipofaring lebah pekerja muda, berisi vitamin B1, B2, B3, B5, B6, Be, vitamin H dan vitamin E.
Menurut ahli lebah H Wawan Darmawan, SE, MBA, royal jelly memiliki kandungan gizi tinggi berupa protein 45%, lemak 13&, gula 20%, garam mineral, aneka vitamin (B-kompleks, H dan E). Juga mengandung enzim pencernaan, hormone gonadotropin yang bisa menstimulir organ reproduksi ratu dan pemasakan telur, anti biotika germisidin yang dapat mencegah pertumbuhan jamur dan mikroorganisme seperti bakteri staphylococcus aureus, mycrobacterium tuberculosis, escberiricia coli, bacillus eberth.
Nutrisi royal jelly bisa menggantikan sel-sel tubuh yang mati dan memelihara kebugaran tubuh, mempertahankan keperkasaan lelaki. Vitamin H atau biotin yang terdapat dalam royal jelly berfungsi mengatur lemak dan protein dalam tubuh, memperlancar proses asimilasi, mengaktifkan kembali kelenjar tubuh yang tidak bisa bekerja normal, serta menghilangkan rasa lelah.
Menurut M Haydale, royal jelly mengandung 45,15% protein yang terdiri atas asam-asam animo penting, 13,55% lemak, 20,39% glukosa dan levulosa. Tahun 1939, Henry L menemukan hormone gonadotropin dalam royal jelly setelah mengadakan percobaan dengan menyuntik tikus untuk mengetahui perkembangan indung telur (B Sarwono, 2001). Bahkan, beberapa ahli lebah madu di Eropa kini sedang meneliti kemungkinan royal jelly untuk mengobati penderita leukemia, kanker dan AIDS.
Sejak 1922, seorang peneliti dari Perancis telah merekomendasikan royal jelly untuk pengobatan seperti mengobati penyakit kulit (eksim, kulit kasar dan radang kulit). Royal jelly juga digunakan untuk menambah selera makan, menambah daya ingat, mengobati diabetes, untuk campuran kosmetika (kecantikan) dan mengatasi kemandulan. Untuk seseorang yang menderita luka, royal jelly mempercepat proses penyembuhan dan membantu proses pembentukan sel-sel tubuh.
Meski begitu, hingga kini berbagai unsur yang terkandung di dalamnya belum diketahui seutuhnya. Royal jelly yang manis agak kecut tetap merupakan misteri yang menggoda para ilmuwan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar