OLEH: BENY ULEANDER
A. Produksi Madu Masih Timpang
Dalam hal teknik budidaya lebah madu, angka produksi madu setiap tahun dan tingkat konsumsi madu, Indonesia sudah tertinggal dua sampai tiga dekade dari negara lain, meski perlebahan Indonesia terkategori sebagai salah satu komponen terpenting dalam pembangunan sektor pertanian dan kehutanan berkelanjutan. Secara ekologis dan ekonomis, peran lebah madu dalam penyerbukan tanaman cukup menguntungkan bagi kelestarian flora dan peternak lebah.
Seruan mengembangkan budidaya lebah madu di Indonesia pernah digagas mantan Presiden Soeharto di tahun 1977. Saat itu, Presiden Soeharto menganjurkan agar peternakan lebah dilakukan dalam skala besar. Dalam Lokakarya Nasional Riset dan Teknologi tahun 1978, anjuran presiden ditampung jadi bagian garis kebijaksanaan kegiatan riset dan teknologi pada PELITA III yang berkaitan dengan usaha pengadaan “BUTASARMAN” (Kebutuhan dasar manusia).
Secara operasional, Departemen Pertanian melalui Ditjen Kehutanan sudah menggelar di beberapa kawasan hutan dan pengembangan ternak tradisional (1), semi teknis (2) dan industrialisasi (3) oleh Ditjen Tanaman Pangan. Data statistik per tahun 1976-1980 menyebut, Indonesia harus mengimpor 176.000 kg madu setiap tahun. Untuk dijadikan sebuah komoditi non migas, maka secara kontinyu diperlukan sebuah pabrik farmasi, yang salah satu produk obat batuknya memerlukan komponen utama madu (Ketut Patra, Sinar Harapan, 28/1/1982).
Ditinjau dari kekayaan alam, Indonesia menyimpan potensi besar bagi pengembangan usaha perlebahan. Bahkan, enam dari tujuh species lebah madu di dunia ada ada di bumi nusantara, dan sudah dimanfaatkan masyarakat untuk diambil madu dan lilin.
Negeri dengan luas tanah sekitar 200 juta ha; pertanian 11.757.900 ha dan hutan sekitar 123.200.000 ha, yang yang dianggap produktif sebagai sumber pakan lebah (bee forage) hanya 80.000.000 ha. Dari total areal yang produktif tersebut dapat menghasilkan sekitar 80.000-200.000 ton dalam setahun. Menurut Algamar dkk (1986), Indonesia bisa menjadi negara industri perlebahan paling unggul di dunia.
Sayangnya, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara baik. Di sejumlah negara maju, lebah madu ditempatkan dalam mata rantai paket teknologi modern di bidang pertanian, minimal untuk sektor hortikultural. Ia dilindungi dari bahaya kemusnahan oleh obat-obatan anti hama. Bahkan, para pengusaha perkebunan buah-buahan sengaja menyewa serangga dari peternakan lebah ketika tanaman perkebunan sedang berbunga. Amerika Serikat, pada tahun 1982 misalnya, dari produksi pertanian bernilai sekitar US$ 45 miliar per tahun berkat kegiatan riset pengembangan ilmu dan teknologi, ternyata satu miliar dari jumlah tersebut, berkat aktivitas persarian (Pollination) (Anonymous, 1972).
Meksiko merupakan negara produsen madu terbesar di dunia. Negeri ini bisa produksi madu sekitar 37.200 ton per tahun (van der Plaas, 1982) dan juga tercatat sebagai negara terbesar yang menyuplai pasar madu dunia (20,1%) dari total pasar madu dunia per 1984 (Foo, 1986).
Sedangkan Jerman Barat justru menjadi negara pengimpor madu terbesar di dunia yakni sekitar 28,3% dari total madu di pasaran dunia per 1984 (Foo, 1986).
Di Jepang, impor madu terus meningkat 3 ton/tahun (1955-1959), 79 ton/tahun (1960-1964), 10.889 ton/tahun (1965-1969) (Soerodjotanojo et, al, 1980). Makin tinggi teknologi suatu negara, makin tinggi pula jumlah konsumsi madu (Winarno, 1980). Setahun, tingkat konsumsi madu di negara-negara maju seperti Jerman, Jepang, Inggris dan Perancis mencapai 700-1500 gr per kapita. Negara berkembang kurang dari 70 gr per kapita per tahun (Iliesu, 1977), dan Indonesia kurang dari 20 gr per kapita per tahun (Winarno, 1980), dan bahkan hanya 1,335 gr per kapita per tahun (Toebin, 1986).
Data Asosiasi Perlebahan Indonesia (API) 2005 menyebut, lingkungan pertanian dan hutan Indonesia seluas 19,2 juta hektar itu bila dioptimalkan, setahun Indonesia bisa menghasilkan minimal 200 ribu ton madu dari berbagai bunga, dari pertanian maupun hutan. Merunut pada asumsi ini, Indonesia bisa menghasilkan devisa negara Rp 20 trilliun per tahun dan jika dimaksimalkan bisa 2 juta ton per tahun dari bisnis perlebahan. Di samping itu, masyarakat bisa menjadikan madu sebagai food suplemen karena gizinya yang natural. Tradisi konsumsi madu di Indonesia sebenarnya sudah terjadi sejak ratusan tahun silam, namun baru sebatas obat dan dalam takaran yang sangat sedikit.
Saat ini, kesadaran masyarakat akan madu sebagai salah satu food suplement memicu terjadinya peningkatan terhadap kebutuhan madu. Data Asosiasi Perlebahan Indonesia (API) 2005 menyebut, angka konsumsi madu Indonesia berkisar 7000-15.000 ton per tahun. Sedangkan produksi madu Indonesia, per 2002 baru mencapai 4.000-5.000 ton/tahun. Di sini jelas tercipta jurang lebar antara tingkat kebutuhan dan produksi.
Potret miring ini memacu beredarnya madu palsu di pasaran. Kini, di pasaran madu dikenal original honey (madu asli) dan sintetis honey (madu proses atau campuran). Dari pengamatan API, sintetis honey paling dominan beredar di pasaran dan original honey hanya 10% ada di mal-mal, apotek, pasar swalayan, agen dan pasar-pasar tradisional.
Tampilkan postingan dengan label BAB IV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BAB IV. Tampilkan semua postingan
Kamis, 20 Desember 2007
B. Madu Organik Dan Sintetik
Geliat positif tentang meningkatnya kesadaran masyarakat untuk konsumsi madu sebagai obat dan food supplement, telah mendorong banyak produsen nakal membuat madu sintetik yang membahayakan kesehatan manusia. Kondisi inilah yang menyebar virus-virus traumatis bagi masyarakat untuk membeli madu karena kian banyaknya madu palsu yang beredar di pasaran.
Original honey merupakan madu yang dihasilkan lebah yang mengandung glukosa bukan gula tetapi nektar bunga yang diurai enzim jadi madu. Sedang sintetis honey sebagai sukrosa dan tidak mengandung unsur diatase yang ada di tubuh lebah. Sintetis honey sangat berbahaya dikonsumsi manusia terutama para penderita diabetes mellitus.
Sedikitnya, ada lima khasiat dari madu organik. Pertama, sebagai antibiotik konvensional untuk infeksi saluran kencing. Kedua, menyembuhkan mencret. Dengan konsentrasi hingga 40%, madu memberikan efek bakterial yang menghambat laju sejumlah bakteri yang menyebabkan mencret dan disentri seperti Salmonella, Shigella, enteropatogenik E coli dan Vibrio cholera. Dalam sebuah studi, madu dengan cairan rehidrasi oral mampu mengurangi durasi bakteri baik pada anak-anak maupun bayi yang menderita mencret.
Ketiga, madu dapat digunakan sebagai penyembuh luka dan anti inflammatory (luka bakar) serta mencegah infeksi bekas operasi. Madu bisa menyerap air yang ada di sekitar jaringan kulit terbakar. Sebuah studi di Afrika Barat menyebut, penyembuhan luka pada wanita setelah menjalani vulvectomy (operasi vagina) akibat kanker vagina, memakan waktu lebih cepat dengan menggunakan madu. Penggunaan madu juga disarankan untuk mengurangi tajamnya bau yang diakibatkan borok pada orang yang berpenyakit kusta.
Keempat, madu digunakan sebagai zat antitusif dan ekspektoran. Madu yang diandalkan sebagai obat batuk erat kaitan dengan kemampuan madu mencairkan dahak dan melegakan tenggorokan. Kelima, madu sebagai sumber nutrisi. Madu yang tidak terkontaminasi sangat sehat, makanan yang alami, dan mengandung banyak energi karena ada karbohidrat, protein, lipid, enzim dan vitamin. Satu sendok madu mengandung 60 kalori, 11 gr karbohidrat, 1 mg kalsium, 0,2 mg zat besi, 0,1 mg vitamin B dan 1 mg vitamin C.
Berbeda dengan madu proses (madu sintetik) yang sepintas sangat menyerupai madu asli. Madu sintetik dibuat tanpa pertolongan lebah atau memakai gula dengan proses sintetis oleh manusia bukan lebah. Umumnya, madu sintetik berwarna, penampilan, tekstur fisik, aroma dan rasa yang sama dengan madu asli. Orang awam sangat sulit membedakan mana madu asli dan mana madu tiruan.
Madu sintetik diolah campuran glukosa dengan gula pasir, buah, flavour dan zat warna, dan cukup berpotensi untuk membahayakan kesehatan manusia. Karena itu, perlu tetap diwaspadai mereka yang menjual madu dengan membawa sarang lebah. Meski kelihatan asli, seakan baru diambil langsung dari sarang madu, tetapi itu tidak bisa menjamin bahwa madu yang dijual itu madu asli, apalagi harga lebih murah di bawah standar madu asli.
Original honey merupakan madu yang dihasilkan lebah yang mengandung glukosa bukan gula tetapi nektar bunga yang diurai enzim jadi madu. Sedang sintetis honey sebagai sukrosa dan tidak mengandung unsur diatase yang ada di tubuh lebah. Sintetis honey sangat berbahaya dikonsumsi manusia terutama para penderita diabetes mellitus.
Sedikitnya, ada lima khasiat dari madu organik. Pertama, sebagai antibiotik konvensional untuk infeksi saluran kencing. Kedua, menyembuhkan mencret. Dengan konsentrasi hingga 40%, madu memberikan efek bakterial yang menghambat laju sejumlah bakteri yang menyebabkan mencret dan disentri seperti Salmonella, Shigella, enteropatogenik E coli dan Vibrio cholera. Dalam sebuah studi, madu dengan cairan rehidrasi oral mampu mengurangi durasi bakteri baik pada anak-anak maupun bayi yang menderita mencret.
Ketiga, madu dapat digunakan sebagai penyembuh luka dan anti inflammatory (luka bakar) serta mencegah infeksi bekas operasi. Madu bisa menyerap air yang ada di sekitar jaringan kulit terbakar. Sebuah studi di Afrika Barat menyebut, penyembuhan luka pada wanita setelah menjalani vulvectomy (operasi vagina) akibat kanker vagina, memakan waktu lebih cepat dengan menggunakan madu. Penggunaan madu juga disarankan untuk mengurangi tajamnya bau yang diakibatkan borok pada orang yang berpenyakit kusta.
Keempat, madu digunakan sebagai zat antitusif dan ekspektoran. Madu yang diandalkan sebagai obat batuk erat kaitan dengan kemampuan madu mencairkan dahak dan melegakan tenggorokan. Kelima, madu sebagai sumber nutrisi. Madu yang tidak terkontaminasi sangat sehat, makanan yang alami, dan mengandung banyak energi karena ada karbohidrat, protein, lipid, enzim dan vitamin. Satu sendok madu mengandung 60 kalori, 11 gr karbohidrat, 1 mg kalsium, 0,2 mg zat besi, 0,1 mg vitamin B dan 1 mg vitamin C.
Berbeda dengan madu proses (madu sintetik) yang sepintas sangat menyerupai madu asli. Madu sintetik dibuat tanpa pertolongan lebah atau memakai gula dengan proses sintetis oleh manusia bukan lebah. Umumnya, madu sintetik berwarna, penampilan, tekstur fisik, aroma dan rasa yang sama dengan madu asli. Orang awam sangat sulit membedakan mana madu asli dan mana madu tiruan.
Madu sintetik diolah campuran glukosa dengan gula pasir, buah, flavour dan zat warna, dan cukup berpotensi untuk membahayakan kesehatan manusia. Karena itu, perlu tetap diwaspadai mereka yang menjual madu dengan membawa sarang lebah. Meski kelihatan asli, seakan baru diambil langsung dari sarang madu, tetapi itu tidak bisa menjamin bahwa madu yang dijual itu madu asli, apalagi harga lebih murah di bawah standar madu asli.
B. Madu Asli Dan Madu Palsu
Madu yang beredar di Indonesia umumnya dihasilkan dari tiga jenis lebah; apis dorsata (lebah hutan), apis mellifera (lebah unggul) dan apis cerana (lebah lokal) yang ada di atas atap rumah. Dari segi kualitas, madu hutan (madu organik) berwarna hitam pekat lebih baik daripada madu yang dibudidaya. Sayangnya, masyarakat Indonesia sudah terbiasa konsumsi madu budidaya berwarna coklat cerah. Akibatnya, madu hutan dianggap sebagai madu palsu,” ujar pakar lebah, H Wawan Darmawan, SE, MBA.
Banyak orang penasaran untuk membedakan madu asli yang dihasilkan lebah pencari makan di alam bebas dari madu palsu (sirup gula, misalnya). Disinyalir, peredaran madu palsu di Indonesia sangat tinggi. Uji coba madu asli atau palsu lewat aroma, semut yang mengerubuti, kekentalan jika diteteskan pada debu, belum jadi jaminan sekitar keaslian sebuah produk madu.
Pengamat madu Indonesia, Surandi K. Riyatmo menilai, murni dan alami madu hanya bisa diteliti di laboratorium karena tidak ada cara lain yang bisa dipertanggungjawabkan. Di laboratorium, kandungan glukosa pada madu murni agak dominan kelihatan dan kandungan sukrosa lebih menonjol pada madu palsu. Madu asli mengandung mineral seperti natrium, kalsium, magnesium, alumunium, besi, fosfor dan kalium. Vitamin dalam madu berupa thiamin (B1), riboflavin (B2), asam askorbat (C), piridoksin (B6), niasin, asam pantotenat, biotin, asamfolat dan vitamin K.
Madu asli mengandung enzim sedangkan madu palsu tidak. Enzim tidak bisa dibuat manusia, dan hanya bisa dibuat lebah madu. Enzim-enzim terpenting dalam madu; diatase, invertase, glukosa oksidase, peroksidase dan lipase. Diastase merupakan enzim pengubah karbohidrat komplek (polisakarida) jadi karbohidrat sederhana (mono sakarida). Invertase merupakan enzim pemecah molekul sukrosa jadi glukosa dan fluktosa. Oksidase mengemban peran sebagai enzim pembantu oksidasi glukosa jadi asam peroksida. Enzim peroksidase melakukan proses oksidasi metabolisme. Semua zat berguna untuk proses metabolisme tubuh.
Sedangkan madu palsu mengandung campuran glukosa dengan gula pasir, buah, flavour dan zat warna sangat merugikan kesehatan manusia. Ciri-ciri madu asli harus berwarna-warni, hitam pekat (berasal dari bunga akasia), hitam kemerah-merahan, kuning cerah, kekuning-kuningan atau kuning keputih-putihan (lebah budidaya). Bila mendapatkan madu dengan warna dan kekentalan sama perlu diwaspadai karena warna madu asli tidak pernah sama.
Aroma juga bisa dijadikan media untuk menentukan asli atau palsunya sebuah produk madu. Madu asli punya aroma dan bau khas seperti madu dari bunga rambutan, kapuk randu atau kelengkeng. Ini berbeda dengan madu palsu yang sama sekali tidak beraroma.
Pengujian lain, madu asli bila dituangkan di atas piring sebanyak dua senduk lalu disirami air putih. Kalau digoyang ke kanan dan ke kiri membentuk sarang lebah. Jika tidak menyebar bahkan bercampur dengan air, maka terkategori madu palsu.
Uniknya, Surandi K Riyatmo menganjurkan konsumen untuk coba sendiri dengan menjadikan tubuh sebagai lab alam. Caranya, puasa selama 10 jam, lalu periksa gula darah. Katakan A minum madu 2-3 sendok. Sesudah 2 jam, periksa lagi gula darah. Katakan B bila madunya murni dan alami, selisih antara B dengan A kecil.
Penderita diabetes mellitus (DM) yang berpengalaman minum madu bisa merasakan madu murni dan madu palsu. Bila setelah minum madu, badan jadi segar dan bertenaga kembali (sama seperti bukan penderita DM yang baru saja minum teh manis), itu menandakan madu yang baru diminum murni dan alami.
Dalam tubuh penderita DM, madu diubah jadi tenaga (tanpa bantuan insulin). Bila penderita DM minum teh manis atau madu yang tidak murni dan tidak alami, ia tidak akan segera merasa segar dan bersemangat, tetapi tetap loyo bahkan tambah loyo (karena gula atau madu palsu tidak bisa diubah jadi tenaga tetapi "mencemari" tubuh).
Indikator lain adalah berat badan penderita DM. Bila setelah minum madu secara teratur berat badan tidak turun, itu tandanya madu yang diminum murni dan alami atau berat badan yang berangsur mendekati berat badan ideal. Pada etiket madu racik tercantum prosentase madu murni. Misalnya Madu Geruh, 100% madu murni, Madu Jamur, 95% madu murni dan 5% jamur. Madu Rocky, 85% madu murni dan 15% cuka apel.
Terkait fakta-fakta di atas, Surandi K Riyatmo menyarankan produsen madu agar mencantumkan prosentase kandungan madu. Misalnya 95% madu murni, 5% jamur, dan seterusnya. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) diharapkan tetap mengawasi produk-produk madu yang beredar di masyarakat.
TABEL PERBEDAAN MADU ASLI & PALSU
Indikasi Madu Asli; Madu Palsu
Aroma: Mempunyai Aroma; Tidak beraroma
Dicampur: Di campur air putih, warnanya menjadi keruh;Dicampur air putih warnanya bening
Dipegang: Terasa kesat; Cenderung licin
Kandungan Madu: Mengandung Fluktosa, Glukosa, enzim dan berbagai macam vitamin; Mengandung Sukrosa (gula) dan Air
Panen Madu: Diproduksi oleh lebah sendiri yang diperolehnya dari berbagai nektar bunga;Dibuat manusia dengan berbagai bahan baku seperti sirop, tapioka, soda dan lain-lain yang dapat membahayakan kesehatan manusia.
Warna Madu: Tergantung bunga yang dihisap lebah; Warna cenderung sama
Kekentalan: Kekentalan tergantung kondisi cuaca. Jika musim hujan madu cenderung encer;Kekentalan cenderung sama karena dibuat oleh manusia sesuai aturan baku pembuatnya.
Sumber : APRIARI
Banyak orang penasaran untuk membedakan madu asli yang dihasilkan lebah pencari makan di alam bebas dari madu palsu (sirup gula, misalnya). Disinyalir, peredaran madu palsu di Indonesia sangat tinggi. Uji coba madu asli atau palsu lewat aroma, semut yang mengerubuti, kekentalan jika diteteskan pada debu, belum jadi jaminan sekitar keaslian sebuah produk madu.
Pengamat madu Indonesia, Surandi K. Riyatmo menilai, murni dan alami madu hanya bisa diteliti di laboratorium karena tidak ada cara lain yang bisa dipertanggungjawabkan. Di laboratorium, kandungan glukosa pada madu murni agak dominan kelihatan dan kandungan sukrosa lebih menonjol pada madu palsu. Madu asli mengandung mineral seperti natrium, kalsium, magnesium, alumunium, besi, fosfor dan kalium. Vitamin dalam madu berupa thiamin (B1), riboflavin (B2), asam askorbat (C), piridoksin (B6), niasin, asam pantotenat, biotin, asamfolat dan vitamin K.
Madu asli mengandung enzim sedangkan madu palsu tidak. Enzim tidak bisa dibuat manusia, dan hanya bisa dibuat lebah madu. Enzim-enzim terpenting dalam madu; diatase, invertase, glukosa oksidase, peroksidase dan lipase. Diastase merupakan enzim pengubah karbohidrat komplek (polisakarida) jadi karbohidrat sederhana (mono sakarida). Invertase merupakan enzim pemecah molekul sukrosa jadi glukosa dan fluktosa. Oksidase mengemban peran sebagai enzim pembantu oksidasi glukosa jadi asam peroksida. Enzim peroksidase melakukan proses oksidasi metabolisme. Semua zat berguna untuk proses metabolisme tubuh.
Sedangkan madu palsu mengandung campuran glukosa dengan gula pasir, buah, flavour dan zat warna sangat merugikan kesehatan manusia. Ciri-ciri madu asli harus berwarna-warni, hitam pekat (berasal dari bunga akasia), hitam kemerah-merahan, kuning cerah, kekuning-kuningan atau kuning keputih-putihan (lebah budidaya). Bila mendapatkan madu dengan warna dan kekentalan sama perlu diwaspadai karena warna madu asli tidak pernah sama.
Aroma juga bisa dijadikan media untuk menentukan asli atau palsunya sebuah produk madu. Madu asli punya aroma dan bau khas seperti madu dari bunga rambutan, kapuk randu atau kelengkeng. Ini berbeda dengan madu palsu yang sama sekali tidak beraroma.
Pengujian lain, madu asli bila dituangkan di atas piring sebanyak dua senduk lalu disirami air putih. Kalau digoyang ke kanan dan ke kiri membentuk sarang lebah. Jika tidak menyebar bahkan bercampur dengan air, maka terkategori madu palsu.
Uniknya, Surandi K Riyatmo menganjurkan konsumen untuk coba sendiri dengan menjadikan tubuh sebagai lab alam. Caranya, puasa selama 10 jam, lalu periksa gula darah. Katakan A minum madu 2-3 sendok. Sesudah 2 jam, periksa lagi gula darah. Katakan B bila madunya murni dan alami, selisih antara B dengan A kecil.
Penderita diabetes mellitus (DM) yang berpengalaman minum madu bisa merasakan madu murni dan madu palsu. Bila setelah minum madu, badan jadi segar dan bertenaga kembali (sama seperti bukan penderita DM yang baru saja minum teh manis), itu menandakan madu yang baru diminum murni dan alami.
Dalam tubuh penderita DM, madu diubah jadi tenaga (tanpa bantuan insulin). Bila penderita DM minum teh manis atau madu yang tidak murni dan tidak alami, ia tidak akan segera merasa segar dan bersemangat, tetapi tetap loyo bahkan tambah loyo (karena gula atau madu palsu tidak bisa diubah jadi tenaga tetapi "mencemari" tubuh).
Indikator lain adalah berat badan penderita DM. Bila setelah minum madu secara teratur berat badan tidak turun, itu tandanya madu yang diminum murni dan alami atau berat badan yang berangsur mendekati berat badan ideal. Pada etiket madu racik tercantum prosentase madu murni. Misalnya Madu Geruh, 100% madu murni, Madu Jamur, 95% madu murni dan 5% jamur. Madu Rocky, 85% madu murni dan 15% cuka apel.
Terkait fakta-fakta di atas, Surandi K Riyatmo menyarankan produsen madu agar mencantumkan prosentase kandungan madu. Misalnya 95% madu murni, 5% jamur, dan seterusnya. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) diharapkan tetap mengawasi produk-produk madu yang beredar di masyarakat.
TABEL PERBEDAAN MADU ASLI & PALSU
Indikasi Madu Asli; Madu Palsu
Aroma: Mempunyai Aroma; Tidak beraroma
Dicampur: Di campur air putih, warnanya menjadi keruh;Dicampur air putih warnanya bening
Dipegang: Terasa kesat; Cenderung licin
Kandungan Madu: Mengandung Fluktosa, Glukosa, enzim dan berbagai macam vitamin; Mengandung Sukrosa (gula) dan Air
Panen Madu: Diproduksi oleh lebah sendiri yang diperolehnya dari berbagai nektar bunga;Dibuat manusia dengan berbagai bahan baku seperti sirop, tapioka, soda dan lain-lain yang dapat membahayakan kesehatan manusia.
Warna Madu: Tergantung bunga yang dihisap lebah; Warna cenderung sama
Kekentalan: Kekentalan tergantung kondisi cuaca. Jika musim hujan madu cenderung encer;Kekentalan cenderung sama karena dibuat oleh manusia sesuai aturan baku pembuatnya.
Sumber : APRIARI
D. Belajar Dari Thailand
Meski Indonesia memiliki pakan lebah yang besar namun produksi madu masih sangat sedikit. Di daratan Asia, Indonesia cukup jauh tertinggal dengan Thailand yang bisa produksi madu dari jenis kelengkeng 10.000 ton per tahun. Fakta ini seperti diungkap Ketua API H Wawan Darmawan SE, MBA karena minimnya pengetahun tentang manfaat lebah madu dan kurangnya dukungan pemerintah.
Hingga kini belum ada departemen yang khusus diberi tugas untuk mengawal dan mendampingi kegiatan usaha dan budidaya lebah madu di Indonesia. Pemerintah hanya menganggap kegiatan perlebahan sebagai aktivitas biasa yang tidak memiliki potensi. Jangan heran jika produksi madu per tahun tidak pernah bertambah, dan sebaliknya cenderung berkurang.
Di kalangan masyarakat masih tertanam kuat asumsi yang keliru soal lebah madu yang dapat merusak hasil pertanian dan perkebunan. Padahal, serangga kecil ini membantu penyerbukan pohon dan tanaman, sebagai sumber energi, madu jadi food supplement yang alami. Juga, lebah madu bisa diolah jadi aneka produk kosmetika dan farmasi. Contohnya, lilin lebah dibutuhkan oleh sekitar 200 industri, termasuk untuk riset atom (Smith, 1960). Sumber daya madu lebah bisa memberi kesempatan kerja yang cukup besar bagi para tenaga kerja. Di Meksiko, sekitar 600.000 orang yang terlibat aktif mengurusi sekitar 1.240.000 koloni lebah di negeri tersebut.
Di Thailand, raja sangat respek terhadap kegiatan perlebahan. Pemerintah Thailand bahkan menganggap madu sebagai sumber devisa potensial, dan karena itu terus dipacu produksinya guna mempertahankan pasar di kawasan Eropa. Potret ini berimbas positif pada ekonomi masyarakat peternak lebah madu dan masyarakat termotivasi untuk budidaya lebah. Di Chiang Mai, Thailand, ribuan hektar pohon kelengkeng ditanam petani lebah. Bayangkan dari bunga kelengkang saja Thailand dapat menghasilkan 10. 000 ton madu per tahun.
Untuk mengembangkan usaha perlebahan di Indonesia dalam skala besar agar sejajar dengan negara lain seperti RRC, Meksiko dan Australia, pemerintah perlu mendorong kegiatan pengayaan tanaman pakan lebah melalui gerakan penghijauan, reboisasi dan hutan tanaman industri. Pada lahan-lahan hutan terutama di pulau Jawa yang berbatasan dengan pedesaan, perlu ditanami jenis-jenis tanaman pakan lebah. Adanya kemudahan perijinan dalam kegiatan penggembalaan lebah terutama pada areal perkebunan dan hutan tanaman industri. Pemerintah juga wajib menertibkan peredaraan madu palsu diiringi sosialisasi tentang manfaat perlebahan bagi masyarakat. Selain itu adanya dorongan finansial berupa modal melalui bank-bank. Perlu diingat, peternak lebah kecil saat ini banyak mengalami kesulitan permodalan, dan mereka sangat memerlukan bantuan kredit dengan bunga lunak dan prosedur sederhana.
Peningkatan kemampuan SDM di bidang perlebahan melalui kegiatan penyuluhan, pelatihan dan pendidikan harus terus dilakukan. Peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi perlebahan melalui penelitian dan pengembangan oleh lembaga terkait jadi sesuatu yang penting, penyiapan sistem informasi perlebahan nasional dan pengembangan kerja sama regional dan internasional di bidang perlebahan. Peningkatan peranan pemerintah daerah sebagai fasilitator pengembangan perlebahan di setiap daerah dan penertiban aneka pungutan liar.
API saat ini sedang memacu masyarakat di sekitar hutan dan perkebunan untuk menjadi petani madu. Bukankah lebih baik daripada mereka mencuri kayu? Rencana ini tidak mudah, tanpa didukung pemerintah. Menurut catatan API, program pelatihan tentang budidaya lebah sudah sering dilakukan, --perorangan maupun lembaga dengan tujuan sosialisasi manfaat lebah dan mendorong minat masyarakat membudidayakan lebah.
Selain itu informasi budidaya lebah dilakukan di sekolah-sekolah, membina petani lebah di daerah-daerah dengan memberikan masukan-masukan terkait kendala yang dihadapi terutama teknologi budidaya lebah secara modern. Pengalaman studi banding ke negara-negara lain, --Asia, Eropa maupun Amerika ditularkan kepada para petani lebah agar lebih yakin dan lebih giat mencontohi petani lebah di luar negeri.
Hingga kini belum ada departemen yang khusus diberi tugas untuk mengawal dan mendampingi kegiatan usaha dan budidaya lebah madu di Indonesia. Pemerintah hanya menganggap kegiatan perlebahan sebagai aktivitas biasa yang tidak memiliki potensi. Jangan heran jika produksi madu per tahun tidak pernah bertambah, dan sebaliknya cenderung berkurang.
Di kalangan masyarakat masih tertanam kuat asumsi yang keliru soal lebah madu yang dapat merusak hasil pertanian dan perkebunan. Padahal, serangga kecil ini membantu penyerbukan pohon dan tanaman, sebagai sumber energi, madu jadi food supplement yang alami. Juga, lebah madu bisa diolah jadi aneka produk kosmetika dan farmasi. Contohnya, lilin lebah dibutuhkan oleh sekitar 200 industri, termasuk untuk riset atom (Smith, 1960). Sumber daya madu lebah bisa memberi kesempatan kerja yang cukup besar bagi para tenaga kerja. Di Meksiko, sekitar 600.000 orang yang terlibat aktif mengurusi sekitar 1.240.000 koloni lebah di negeri tersebut.
Di Thailand, raja sangat respek terhadap kegiatan perlebahan. Pemerintah Thailand bahkan menganggap madu sebagai sumber devisa potensial, dan karena itu terus dipacu produksinya guna mempertahankan pasar di kawasan Eropa. Potret ini berimbas positif pada ekonomi masyarakat peternak lebah madu dan masyarakat termotivasi untuk budidaya lebah. Di Chiang Mai, Thailand, ribuan hektar pohon kelengkeng ditanam petani lebah. Bayangkan dari bunga kelengkang saja Thailand dapat menghasilkan 10. 000 ton madu per tahun.
Untuk mengembangkan usaha perlebahan di Indonesia dalam skala besar agar sejajar dengan negara lain seperti RRC, Meksiko dan Australia, pemerintah perlu mendorong kegiatan pengayaan tanaman pakan lebah melalui gerakan penghijauan, reboisasi dan hutan tanaman industri. Pada lahan-lahan hutan terutama di pulau Jawa yang berbatasan dengan pedesaan, perlu ditanami jenis-jenis tanaman pakan lebah. Adanya kemudahan perijinan dalam kegiatan penggembalaan lebah terutama pada areal perkebunan dan hutan tanaman industri. Pemerintah juga wajib menertibkan peredaraan madu palsu diiringi sosialisasi tentang manfaat perlebahan bagi masyarakat. Selain itu adanya dorongan finansial berupa modal melalui bank-bank. Perlu diingat, peternak lebah kecil saat ini banyak mengalami kesulitan permodalan, dan mereka sangat memerlukan bantuan kredit dengan bunga lunak dan prosedur sederhana.
Peningkatan kemampuan SDM di bidang perlebahan melalui kegiatan penyuluhan, pelatihan dan pendidikan harus terus dilakukan. Peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi perlebahan melalui penelitian dan pengembangan oleh lembaga terkait jadi sesuatu yang penting, penyiapan sistem informasi perlebahan nasional dan pengembangan kerja sama regional dan internasional di bidang perlebahan. Peningkatan peranan pemerintah daerah sebagai fasilitator pengembangan perlebahan di setiap daerah dan penertiban aneka pungutan liar.
API saat ini sedang memacu masyarakat di sekitar hutan dan perkebunan untuk menjadi petani madu. Bukankah lebih baik daripada mereka mencuri kayu? Rencana ini tidak mudah, tanpa didukung pemerintah. Menurut catatan API, program pelatihan tentang budidaya lebah sudah sering dilakukan, --perorangan maupun lembaga dengan tujuan sosialisasi manfaat lebah dan mendorong minat masyarakat membudidayakan lebah.
Selain itu informasi budidaya lebah dilakukan di sekolah-sekolah, membina petani lebah di daerah-daerah dengan memberikan masukan-masukan terkait kendala yang dihadapi terutama teknologi budidaya lebah secara modern. Pengalaman studi banding ke negara-negara lain, --Asia, Eropa maupun Amerika ditularkan kepada para petani lebah agar lebih yakin dan lebih giat mencontohi petani lebah di luar negeri.
E. Asosiasi Perlebahan Indonesia (API)
Asosiasi Perlebahan Indonesia (API) yang dibentuk tahun 1992 merupakan himpunan masyarakat perlebahan plus mitra sejajar pemerintah untuk bersama-sama mengembangkan perlebahan Indonesia. Hingga kini, API dipimpin H Wawan Darmawan, SE, MBA.
API didirikan untuk memajukan usaha perlebahan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi berupa barang dan jasa yang bermutu bagi pemenuhan hidup rakyat banyak, meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan anggota, menyediakan wahana saling tukar informasi perlebahan antar anggota maupun masyarakat nasional dan internasional, meningkatkan profesionalisme kegiatan perlebahan, membina hubungan dengan organisasi asing serta meningkatkan pemanfaatan dan pemasaran produk perlebahan di dalam maupun di luar negeri.
Selama ini, hasil yang sudah dicapai berupa inventarisasi potensi pakan lebah untuk memudahkan peternak lebah menggembalakan koloni, pengembangan teknologi untuk mengejar ketinggalan dari negara maju perihal budidaya lebah madu, penyuluhan untuk menyelamatkan lebah hutan A. dorsata sebagai lebah asli Indonesia. Selain itu, aktif menjalin kerja sama teknis perlebahan dengan negara maju difokuskan pada alih teknologi, dan menggelar kongres perlebahan nasional.
Selama ini, pengembangan budidaya madu masih dipusatkan di area Bumi Perkemahan Cibubur (BPC), Jakarta Timur. Tidak seperti para pemburu madu hutan yang hanya menggantungkan hasilnya pada kebaikan alam dan kerja keras lebah untuk mengumpulkan madu, API dan Apiari Pramuka terus mengelola dan merawat sarang-sarang lebah yang ditempatkan di dalam kotak-kotak (stup) atau koloni, khususnya jenis Apis mellifera atau lebah unggul yang diimpor dari Eropa, dengan bentuk lebih kecil dari lebah hutan.
Berbagai jenis madu juga tersedia di kawasan BPC seperti madu rambutan, madu kapuk dan madu kopi sebagai hasil penggembalaan lebah secara nomaden. Sejak tahun 1972 hingga kini, Apiari Pramuka sudah menghasilkan 10.000 peternak lebah yang tersebar di seluruh pelosok tanah air dengan total koloni sebanyak 100.000-150.000. Hanya dengan 10.000 peternak lebah, Indonesia sudah bisa menghasilkan 7.000-15.000 ton per tahun.
API didirikan untuk memajukan usaha perlebahan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi berupa barang dan jasa yang bermutu bagi pemenuhan hidup rakyat banyak, meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan anggota, menyediakan wahana saling tukar informasi perlebahan antar anggota maupun masyarakat nasional dan internasional, meningkatkan profesionalisme kegiatan perlebahan, membina hubungan dengan organisasi asing serta meningkatkan pemanfaatan dan pemasaran produk perlebahan di dalam maupun di luar negeri.
Selama ini, hasil yang sudah dicapai berupa inventarisasi potensi pakan lebah untuk memudahkan peternak lebah menggembalakan koloni, pengembangan teknologi untuk mengejar ketinggalan dari negara maju perihal budidaya lebah madu, penyuluhan untuk menyelamatkan lebah hutan A. dorsata sebagai lebah asli Indonesia. Selain itu, aktif menjalin kerja sama teknis perlebahan dengan negara maju difokuskan pada alih teknologi, dan menggelar kongres perlebahan nasional.
Selama ini, pengembangan budidaya madu masih dipusatkan di area Bumi Perkemahan Cibubur (BPC), Jakarta Timur. Tidak seperti para pemburu madu hutan yang hanya menggantungkan hasilnya pada kebaikan alam dan kerja keras lebah untuk mengumpulkan madu, API dan Apiari Pramuka terus mengelola dan merawat sarang-sarang lebah yang ditempatkan di dalam kotak-kotak (stup) atau koloni, khususnya jenis Apis mellifera atau lebah unggul yang diimpor dari Eropa, dengan bentuk lebih kecil dari lebah hutan.
Berbagai jenis madu juga tersedia di kawasan BPC seperti madu rambutan, madu kapuk dan madu kopi sebagai hasil penggembalaan lebah secara nomaden. Sejak tahun 1972 hingga kini, Apiari Pramuka sudah menghasilkan 10.000 peternak lebah yang tersebar di seluruh pelosok tanah air dengan total koloni sebanyak 100.000-150.000. Hanya dengan 10.000 peternak lebah, Indonesia sudah bisa menghasilkan 7.000-15.000 ton per tahun.
F. F. Kiprah Pusat Pelatihan Perlebahan Sukatani (P3S)
Pusat Pelatihan Perlebahan Sukatani (P3S) yang disulap H Wawan Darmawan, SE, MBA berlokasi di Jl Dongkal Raya 8, Sukatani, Cimanggis, Kota Depok ternyata menggoda banyak petani dan peternak lebah untuk menekuni program pelatihan budidaya lebah. Wajar bila P3S ramai dikunjungi para hobies, peternak dan pelajar untuk studi tentang budidaya lebah.
Ditopang kontinuitas sosialisasi madu sebagai minuman kesehatan alami yang kaya nutrisi, P3S mulai membuka kursus perlebahan. Areal pelatihan yang dibangun di Sukatani cukup luas dan memberi keleluasaan kepada pengunjung untuk mengamati aktivitas lebah yang digembalakan.
Rencananya, jelas pria yang diakrabi Pak Lebah itu siap membangun museum perlebahan sebagai media alternatif bagi peserta kursus untuk lebih detail mengetahui dunia perlebahan. Eksistensi P3S cepat tercium insan pers, yang tertarik untuk membuka fakta seputar perlebahan dan bisnis madu seperti yang pernah dilakukan ANTV dan Koran Sindo (Seputar Indonesia) pada tahun 2005 lalu.
Dengan tayangan madu di televisi masyarakat bisa mengenal madu secara langsung sebagai obat mujarab dan makanan kesehatan. Kehadiran P3S bisa menekan peredaraan produk madu ‘aspal’ (asli tapi palsu), dan menciptakan lapangan kerja bagi warga sekitar.
Ditopang kontinuitas sosialisasi madu sebagai minuman kesehatan alami yang kaya nutrisi, P3S mulai membuka kursus perlebahan. Areal pelatihan yang dibangun di Sukatani cukup luas dan memberi keleluasaan kepada pengunjung untuk mengamati aktivitas lebah yang digembalakan.
Rencananya, jelas pria yang diakrabi Pak Lebah itu siap membangun museum perlebahan sebagai media alternatif bagi peserta kursus untuk lebih detail mengetahui dunia perlebahan. Eksistensi P3S cepat tercium insan pers, yang tertarik untuk membuka fakta seputar perlebahan dan bisnis madu seperti yang pernah dilakukan ANTV dan Koran Sindo (Seputar Indonesia) pada tahun 2005 lalu.
Dengan tayangan madu di televisi masyarakat bisa mengenal madu secara langsung sebagai obat mujarab dan makanan kesehatan. Kehadiran P3S bisa menekan peredaraan produk madu ‘aspal’ (asli tapi palsu), dan menciptakan lapangan kerja bagi warga sekitar.
G. Apis Mellifera Lebih Populer
Budidaya lebah madu merupakan salah satu kegiatan yang mudah dan dapat dijadikan penopang dan pendongkrak ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitar sebuah kawasan hutan. Hanya, budidayanya masih tradisional sehingga madu yang dihasilkan berkualitas rendah. Karena itu, peternak lebah perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan teknik yang memadai.
Beberapa lokasi di pulau Jawa sedang dipelihara empat macam lebah penghasil madu; lebah lokal (Apis cerana atau Apis indica), lebah unggul (Apis mellifera), lebah hutan (Apis dorsata) yang besar-besar dan suka menyengat, serta lebah klanceng (Apis florea). Di tempat lain, masyarakat masih gemar memelihara Apis indica.
Dengan menguasai teknik budidaya dan mengenal perilaku hidup lebah madu, peternak di pulau Jawa cenderung mengembangkan budidaya lebah madu unggulan Apis mellifera asal Eropa dan Australia. Upaya itu digiatkan karena tertarik pada ukuran tubuh yang lebih besar dibanding Apis indica. Lebah imporan ini bisa menghasilkan cairan madu, tepung sari dan royal jelly jauh lebih banyak dibanding lebah lokal.
Rambut yang memenuhi sekujur tubuh lebah unggul itu berguna untuk menangkap serbuk sari bunga. Mulutnya yang berbentuk tabung panjang bermanfaat sebagai wadah penghimpun nektar. Sebagai lebah yang hidup berkoloni, jenis serangga itu memiliki sepasang sayap di muka dan sepasang sayap lagi di belakang. Dengan keempat sayapnya, lebah pekerja bisa terbang cepat ke mana-mana. Sebaliknya, kawanan lebah lokal lebih agresif ketimbang lebah unggul. Lebah lokal dipelihara di sarang buatan berupa tangkupan kayu bundar yang dibelah (glodok). Biasanya glodok dibuka sebulan sekali untuk diambil madunya.
Sebagai perbandingan, lebah lokal di pedesaan rata-rata menghasilkan madu 5-10 kg per koloni dalam setahun. Lebah impor milik peternak lebah bisa menghasilkan 40-50 kg per koloni setahun.
Untuk menggenjot peningkatan madu, tidak ada jalan lain selain memperbanyak koloni lebah Apis mellifera, karena produksi madunya sangat tinggi dan bisa digembalakan, kotak kandang mudah diangkut. Cuma jenis lebah impor ini memerlukan perawatan intensif secara profesional, modal dan pengetahuan beternak lebah, serta sang pemilik harus menguasai jalur bisnis.
Beberapa lokasi di pulau Jawa sedang dipelihara empat macam lebah penghasil madu; lebah lokal (Apis cerana atau Apis indica), lebah unggul (Apis mellifera), lebah hutan (Apis dorsata) yang besar-besar dan suka menyengat, serta lebah klanceng (Apis florea). Di tempat lain, masyarakat masih gemar memelihara Apis indica.
Dengan menguasai teknik budidaya dan mengenal perilaku hidup lebah madu, peternak di pulau Jawa cenderung mengembangkan budidaya lebah madu unggulan Apis mellifera asal Eropa dan Australia. Upaya itu digiatkan karena tertarik pada ukuran tubuh yang lebih besar dibanding Apis indica. Lebah imporan ini bisa menghasilkan cairan madu, tepung sari dan royal jelly jauh lebih banyak dibanding lebah lokal.
Rambut yang memenuhi sekujur tubuh lebah unggul itu berguna untuk menangkap serbuk sari bunga. Mulutnya yang berbentuk tabung panjang bermanfaat sebagai wadah penghimpun nektar. Sebagai lebah yang hidup berkoloni, jenis serangga itu memiliki sepasang sayap di muka dan sepasang sayap lagi di belakang. Dengan keempat sayapnya, lebah pekerja bisa terbang cepat ke mana-mana. Sebaliknya, kawanan lebah lokal lebih agresif ketimbang lebah unggul. Lebah lokal dipelihara di sarang buatan berupa tangkupan kayu bundar yang dibelah (glodok). Biasanya glodok dibuka sebulan sekali untuk diambil madunya.
Sebagai perbandingan, lebah lokal di pedesaan rata-rata menghasilkan madu 5-10 kg per koloni dalam setahun. Lebah impor milik peternak lebah bisa menghasilkan 40-50 kg per koloni setahun.
Untuk menggenjot peningkatan madu, tidak ada jalan lain selain memperbanyak koloni lebah Apis mellifera, karena produksi madunya sangat tinggi dan bisa digembalakan, kotak kandang mudah diangkut. Cuma jenis lebah impor ini memerlukan perawatan intensif secara profesional, modal dan pengetahuan beternak lebah, serta sang pemilik harus menguasai jalur bisnis.
1. Syarat Budidaya Lebah Madu
Jarak lokasi peternak ke sumber makanan sekitar 0,75 km dan jarak ke mata air bersih 200-300 m merupakan syarat budidaya yang baik. Selain tempat, juga udara harus sejuk dan bebas angin. Budidaya lebah perlu memperhatikan siklus tanaman berbunga. Karena itu, para peternak lebah sering pindah mengikuti musim berbunga tanaman.
Di dalam satu koloni terdapat seekor lebah ratu, 1000 lebah jantan dan 9.000 lebah pekerja. Jadi, dalam satu koloni terdapat 10.000 ekor lebah. Lebah ratu bertugas memimpin koloni plus bertelur. Lebah jantan membuahi lebah ratu dan menjaga keamanan sarang. Sedangkan lebah pekerja, mencari nektar bunga untuk dijadikan madu yang merupakan makanan mereka.
Di kawasan Sukabumi, Jawa Barat, para peternak lebah mengembangkan teknik budidaya lebah secara modern. Sebelum budidaya, koloni lebah madu didapatkan dari peternak lain atau Apiari. Apis Mellifera menjadi jenis lebah yang bagus untuk diternakkan dalam produktivitas tinggi. Koloni lebah diletakkan pada stup di bawah pohon sejarak antar stup minimum 2 meter.
Pemeliharaan dilakukan dengan rutin memeriksa sarang dan mengendalikan hama penyakit lebah secara tepat. Panen madu dilakukan tiga bulan sekali. Produksi yang ideal untuk satu koloni; 4 kg madu sekali panen dan terjadi secara fluktuatif. Pada masa paceklik bunga, hasil madu hanya bisa 2 kg/koloni. Namun, ketika bunga berlimpah produksinya bisa mencapai 8 kg/koloni.
Di saat musim berbunga tiba, lebah memang banyak mendapat makanannya. Namun saat musim bunga berlalu atau saat musim penghujan, lebah bisa dikatakan tidak memproduksi madu. Bila mereka tidak memproduksi madu, maka mereka tidak punya bahan pangan. Di sinilah peran peternak dalam menjaga kelestarian lebah menjadi penting.
Di kawasan Sukabumi, para peternak lebah memberi gula stimulan terhadap lebah agar bisa bertahan hidup. Suatu hal yang tidak dilakukan para pengumpul lebah hutan. Untuk memelihara lebah unggul, sering koloni-koloni lebah dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lain. Pemindahan tetap didasarkan pada asumsi bahwa lebah selalu mendapatkan cadangan nektar bunga yang cukup demi menjaga kelangsungan produksi madu. Pemindahan juga berfungsi untuk deversifikasi madu berdasarkan jenis bunga yang dihisap lebah.
Proses pembotolan madu di Apiari sangat sederhana, tapi tetap higienis. Madu yang terkumpul dalam puluhan tong plastik disaring, lalu dimasukkan ke dalam tangki untuk pengepakan ke dalam botol.
Sayangnya, pemerintah belum terlibat aktif mengembangbiakkan lebah. Hutan-hutan tropis di Indonesia, baru sebagian kecil yang digunakan sebagai tempat budidaya lebah, padahal potensi ekonomi lebah sangat besar dengan permintaan pasar yang menggiurkan seiring kecenderungan masyarakat untuk kembali konsumsi produk-produk organik yang berasal dari alam.
Di dalam satu koloni terdapat seekor lebah ratu, 1000 lebah jantan dan 9.000 lebah pekerja. Jadi, dalam satu koloni terdapat 10.000 ekor lebah. Lebah ratu bertugas memimpin koloni plus bertelur. Lebah jantan membuahi lebah ratu dan menjaga keamanan sarang. Sedangkan lebah pekerja, mencari nektar bunga untuk dijadikan madu yang merupakan makanan mereka.
Di kawasan Sukabumi, Jawa Barat, para peternak lebah mengembangkan teknik budidaya lebah secara modern. Sebelum budidaya, koloni lebah madu didapatkan dari peternak lain atau Apiari. Apis Mellifera menjadi jenis lebah yang bagus untuk diternakkan dalam produktivitas tinggi. Koloni lebah diletakkan pada stup di bawah pohon sejarak antar stup minimum 2 meter.
Pemeliharaan dilakukan dengan rutin memeriksa sarang dan mengendalikan hama penyakit lebah secara tepat. Panen madu dilakukan tiga bulan sekali. Produksi yang ideal untuk satu koloni; 4 kg madu sekali panen dan terjadi secara fluktuatif. Pada masa paceklik bunga, hasil madu hanya bisa 2 kg/koloni. Namun, ketika bunga berlimpah produksinya bisa mencapai 8 kg/koloni.
Di saat musim berbunga tiba, lebah memang banyak mendapat makanannya. Namun saat musim bunga berlalu atau saat musim penghujan, lebah bisa dikatakan tidak memproduksi madu. Bila mereka tidak memproduksi madu, maka mereka tidak punya bahan pangan. Di sinilah peran peternak dalam menjaga kelestarian lebah menjadi penting.
Di kawasan Sukabumi, para peternak lebah memberi gula stimulan terhadap lebah agar bisa bertahan hidup. Suatu hal yang tidak dilakukan para pengumpul lebah hutan. Untuk memelihara lebah unggul, sering koloni-koloni lebah dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lain. Pemindahan tetap didasarkan pada asumsi bahwa lebah selalu mendapatkan cadangan nektar bunga yang cukup demi menjaga kelangsungan produksi madu. Pemindahan juga berfungsi untuk deversifikasi madu berdasarkan jenis bunga yang dihisap lebah.
Proses pembotolan madu di Apiari sangat sederhana, tapi tetap higienis. Madu yang terkumpul dalam puluhan tong plastik disaring, lalu dimasukkan ke dalam tangki untuk pengepakan ke dalam botol.
Sayangnya, pemerintah belum terlibat aktif mengembangbiakkan lebah. Hutan-hutan tropis di Indonesia, baru sebagian kecil yang digunakan sebagai tempat budidaya lebah, padahal potensi ekonomi lebah sangat besar dengan permintaan pasar yang menggiurkan seiring kecenderungan masyarakat untuk kembali konsumsi produk-produk organik yang berasal dari alam.
2. Peralatan Budidaya Lebah Madu
Teknik budidaya lebah modern tidak menggunakan glodok yang terbuat dari batang pohon kelapa. Petani lebih sering memakai stup. Stup merupakan tempat (kotak) tinggal koloni lebah yang terbuat dari kayu dengan ketebalan 2 cm. Kayu yang digunakan sebaiknya tidak berbau, tahan lama dan mudah didapat. Ukuran panjang stup 50 cm, lebar 40 cm dan tinggi 26 cm. Di dalam stup terdapat frame yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan sarang sepanjang 48 cm, lebar 3 cm dan tinggi 23 cm. Dengan bentuk sarang seperti ini, pemeriksaan koloni dan sisiran mudah serta bisa dilakukan setiap saat.
Lalu, disediakan fondasi sarang, penyekat ratu, kurungan ratu, mangkokan ratu dan bingkai stimulasi yang bertujuan mempercepat pembangunan sarang. Fondasi sarang dilekatkan pada frame. Adapun penyekat ratu digunakan untuk menahan ratu agar tidak naik ke kotak di atas atau kabur. Kurungan ratu digunakan untuk melindungi ratu atau mengenalkan ratu kepada koloni. Mangkokan ratu digunakan untuk menempatkan calon-calon ratu baru. Sarang yang baik dilengkapi bingkai stimulasi untuk digunakan sebagai wadah makanan tambahan ketika paceklik.
Selain itu dibutuhkan pengasap (smoker), masker, pengungkit, sarung tangan dan sikat lebah. Pengasap digunakan untuk menjinakkan lebah saat sisiran diangkat. Masker dan sarung tangan berguna melindungi kulit dari serangan lebah. Pengungkit untuk mengangkat sisiran yang melekat ke stup. Sikat lebah digunakan untuk menghalau lebah pada sisiran ketika dipanen.
Lalu, disediakan fondasi sarang, penyekat ratu, kurungan ratu, mangkokan ratu dan bingkai stimulasi yang bertujuan mempercepat pembangunan sarang. Fondasi sarang dilekatkan pada frame. Adapun penyekat ratu digunakan untuk menahan ratu agar tidak naik ke kotak di atas atau kabur. Kurungan ratu digunakan untuk melindungi ratu atau mengenalkan ratu kepada koloni. Mangkokan ratu digunakan untuk menempatkan calon-calon ratu baru. Sarang yang baik dilengkapi bingkai stimulasi untuk digunakan sebagai wadah makanan tambahan ketika paceklik.
Selain itu dibutuhkan pengasap (smoker), masker, pengungkit, sarung tangan dan sikat lebah. Pengasap digunakan untuk menjinakkan lebah saat sisiran diangkat. Masker dan sarung tangan berguna melindungi kulit dari serangan lebah. Pengungkit untuk mengangkat sisiran yang melekat ke stup. Sikat lebah digunakan untuk menghalau lebah pada sisiran ketika dipanen.
H. Cara Menyimpan Madu
Teknik atau cara menyimpan madu menjadi jembatan untuk mengetahui satu kualitas madu. Madu sebenarnya tidak mudah rusak kecuali madu sintetik. Madu bisa bertahan sampai tahunan bahkan ratusan tahun. Namun untuk menjaga kualitas, kandungan vitamin dan zat lain yang dibutuhkan manusia, madu harus disimpan secara benar.
Madu disimpan di tempat yang kering (tidak lembab) dan tertutup agar tidak bereaksi dengan lingkungan sekitar. Sebab, madu bersifat hidroskopis (menarik air). Madu yang keluar dari sel sarang jika disimpan di tempat terbuka akan masuk air sehingga kadar air bisa bertambah. Tidak dibenarkan madu disimpan dalam lemari es.
Zat gula yang terkandung dalam madu menyebabkan munculnya sifat hidroskopis. Kandungan fluktosa lebih larut dalam air dibanding glukosa. Madu yang berkadar air tinggi mengalami fermentasi sehingga keawetan berkurang dan menghasilkan alkohol. Suhu optimum untuk menyimpan madu, sekitar 110 C. Namun pada suhu 210–270 C (suhu kamar) bisa disimpan dalam wadah kaca kedap udara.
Tempat menyimpanan madu harus terhindar dari sinar matahari atau cahaya lain agar zat anti bakteri tidak mudah rusak. Zat besi dalam madu biasanya siap teroksidasi dengan warna madu yang teroksidasi jadi lebih gelap. Proses ini mengurangi manfaat dan khasiat madu.
Juga tidak baik bila madu ditempatkan di lemari es karena bisa membeku. Tapi ada jenis madu yang membeku akibat pengaruh enzim. Seperti di Rusia, orang konsumsi madu beku, dan tanpa mengurangi kandungan yang dimiliki. Penyimpanan madu tidak boleh memakai wadah yang terbuat dari besi atau logam agar terhindar dari reaksi kimia antara wadah dan asam organik dalam madu.
Madu disimpan di tempat yang kering (tidak lembab) dan tertutup agar tidak bereaksi dengan lingkungan sekitar. Sebab, madu bersifat hidroskopis (menarik air). Madu yang keluar dari sel sarang jika disimpan di tempat terbuka akan masuk air sehingga kadar air bisa bertambah. Tidak dibenarkan madu disimpan dalam lemari es.
Zat gula yang terkandung dalam madu menyebabkan munculnya sifat hidroskopis. Kandungan fluktosa lebih larut dalam air dibanding glukosa. Madu yang berkadar air tinggi mengalami fermentasi sehingga keawetan berkurang dan menghasilkan alkohol. Suhu optimum untuk menyimpan madu, sekitar 110 C. Namun pada suhu 210–270 C (suhu kamar) bisa disimpan dalam wadah kaca kedap udara.
Tempat menyimpanan madu harus terhindar dari sinar matahari atau cahaya lain agar zat anti bakteri tidak mudah rusak. Zat besi dalam madu biasanya siap teroksidasi dengan warna madu yang teroksidasi jadi lebih gelap. Proses ini mengurangi manfaat dan khasiat madu.
Juga tidak baik bila madu ditempatkan di lemari es karena bisa membeku. Tapi ada jenis madu yang membeku akibat pengaruh enzim. Seperti di Rusia, orang konsumsi madu beku, dan tanpa mengurangi kandungan yang dimiliki. Penyimpanan madu tidak boleh memakai wadah yang terbuat dari besi atau logam agar terhindar dari reaksi kimia antara wadah dan asam organik dalam madu.
Langganan:
Postingan (Atom)